Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar 5 Hal Ini dari Drama Korea Populer : Start Up

 drama Korea populer yang tengah memasuki babak akhir penayangan kini sangat ramai diperbi Belajar 5 Hal Ini dari Drama Korea Populer : Start Up

Start Up, drama Korea populer yang tengah memasuki babak final penayangan kini sungguh ramai diperbincangkan warga dunia. Akting para aktor yang mumpuni, wangsit kisah yang relatable dengan kehidupan faktual, serta pesan-pesan moral yang dibawanya membuat banyak orang jatuh cinta dengan drama ini. 

Drama ini mengisahkan usaha seorang karyawan biasa bernama Seo Dal-mi yang resign dari pekerjaannya untuk menjadi pengusaha. Dalam prosesnya membangun perusahaan, dia berjumpa dengan Nam Do-san, seseorang yang ia kira cinta pertamanya lima belas tahun kemudian. Ditambah sosok Han Ji-pyeong selaku secondlead male, Start Up sukses membuat banyak penonton, wanita terutama, terserang baper berkepanjangan.

Terlepas dari bumbu dongeng romantis drama Start Up, ada banyak hal yang mampu dipelajari. Ide ceritanya begitu segar sehingga ada beberapa yang mampu dipraktekkan dalam kehidupan positif. Apa saja itu?

#1 Jangan Memutuskan Apapun Saat Sedang Marah

 drama Korea populer yang tengah memasuki babak akhir penayangan kini sangat ramai diperbi Belajar 5 Hal Ini dari Drama Korea Populer : Start Up

Ada suatu adegan menarik di episode 6, dikala Chul-san memutuskan keluar dari perusahaan. Ia murka sebab pembagian saham yang menurutnya tidak adil dan memberikan hal buruk pada teman-temannya. Lalu esok harinya, Chul-san terkena cipratan susu amis yang membuatnya hampir buta. Saat itulah, Chul-san meratapi perkataannya kemarin. Ia berpikir kalau buta, ia cuma mampu mengingat tampang sahabat-temannya yang kecewa padanya.

#2 Don't Judge a Book By Its Cover

 drama Korea populer yang tengah memasuki babak akhir penayangan kini sangat ramai diperbi Belajar 5 Hal Ini dari Drama Korea Populer : Start Up

Masih perihal Chul-san. Kali ini adegan saat pekan retas dimana dia menjadi satu tim dengan Seo Dal-mi. Saat itu ia baru saja tahu bahwa Seo Dal-mi 'hanyalah' lulusan SMA. Sementara Chul-san beserta kedua temannya lulusan sekolah tinggi tinggi. Ia pikir, Dal-mi yang cuma lulusan Sekolah Menengan Atas tidak layak menjadi CEO (Chief Executive Officer).

Di dunia positif, menganggap seseorang cuma dari apa yang tampakjamak terjadi. Penilaian itu menjadi hal yang masuk akal sebab kriteria tinggi yang ada dalam penduduk . Misalnya, si A lulusan universitas yang terakreditasi A, maka pasti kemampuannya jago. Lalu si B yang studinya tidak kunjung tamat, niscaya pemalas. Padahal kita tidak pernah tahu apa yang setiap orang alami, kenapa gampang sekali menyimpulkan cuma dari performa luar?

#3 Miliki Motivasi yang Kuat dalam Berbisnis

 drama Korea populer yang tengah memasuki babak akhir penayangan kini sangat ramai diperbi Belajar 5 Hal Ini dari Drama Korea Populer : Start Up

Won In-jae, kakak Seo Dal-mi yang terpisah menjadi alasan pertama Dal-mi mendirikan perusahaan start-up. Alasan itu perlahan berubah seiring berjalannya waktu. Ia tidak lagi berbisnis sebab ingin menang dari In-jae, tetapi karena suka. Alasan membuka usaha itu membuatnya besar lengan berkuasa dan bisa bertahan dalam kondisi tersulit sekalipun.

Tidak cuma membuka usaha, apapun hal yang kita lakukan, seluruhnya memerlukan argumentasi yang besar lengan berkuasa.

#4 Selalu Teliti untuk Apapun

 drama Korea populer yang tengah memasuki babak akhir penayangan kini sangat ramai diperbi Belajar 5 Hal Ini dari Drama Korea Populer : Start Up

Beberapa adegan dalam drama Start Up, menampilkan tokoh-tokoh yang meneliti pekerjaannya sebelum finalisasi. Saat pekan retas misalnya. Seo Dal-mi berkali-kali melihat ringkasan sebelum presentasi. Atau saat Kim Yong-san membuat rekam cadang data perusahaan. Lalu ketika uji kendaraan kemudi otomatis. Satu tim kompak mengecek pekerjaan sebelum pengujian. Semua itu menawarkan bahwa menganalisa kembali pekerjaan sungguh penting dijalankan agar menyingkir dari kesalahan seminimal mungkin.

#5 Bacalah Lebih Banyak Buku

 drama Korea populer yang tengah memasuki babak akhir penayangan kini sangat ramai diperbi Belajar 5 Hal Ini dari Drama Korea Populer : Start Up

Agar dapat menjadi pemimpin perusahaan yang bagus, Seo Dal-mi kerap membaca buku di kamarnya. Lihat saja, meja belajarnya dipenuhi dengan buku-buku. Demikian halnya dengan Nam Do-san. Menjadi seorang programer tidak ujug-ujug begitu saja. Semua bermula dari proses belajar yang usang dan membaca berbagai buku.

Ini bisa dipraktekkan ke kehidupan sehari-hari. Apalagi membaca buku tidak lagi serumit dulu. Sekarang pun membaca buku lewat ponsel dapat dilaksanakan. 

Lalu kenapa kita perlu membaca buku? Sederhana. Otak insan layaknya perut. Harus diberi kuliner agar dapat berfungsi dengan baik. Apa masakan otak? Selain oksigen dan glukosa sebagai sumber energi, masakan otak yang tak kalah penting yakni sumber bacaan yang berkualitas.

#6 Jujur dan Jangan Berbohong

 drama Korea populer yang tengah memasuki babak akhir penayangan kini sangat ramai diperbi Belajar 5 Hal Ini dari Drama Korea Populer : Start Up

Jika diadaptasi menjadi sinetron televisi Indonesia, Start Up mungkin judulnya jadi 'Cinta Pertamaku Ternyata Bukan Cinta Pertamaku'. Di 2 episode pertamanya, penonton telah tahu bahwa penulis surat untuk Seo Dal-mi bukanlah Nam Do-san, melainkan Han Ji-pyeong. Penulis naskah drama benar-benar menciptakan penonton, salah satunya saya, gemas. Jika saja Han Ji-pyeong jujur semenjak permulaan bahwa nama Nam Do-san hanyalah sumbangan, pasti Start Up tidak akan hingga 16 episode. 

Namun pada risikonya Seo Dal-mi mengetahui kebenaran dikala semua sudah terlampau jauh. Kebenaran yang melukai ketiganya sekaligus dan mensugesti kelangsungan bisnis Samsan Tech. 

Mengutip perkataan nenek Seo Dal-mi, "Tidak ada kebohongan untuk kebaikan. Bagaimana mampu suatu kebohongan itu baik padahal menyakiti."

Nam Do-san dan Seo Dal-mi betul-betul mengambil pelajaran berharga dari hal ini. Yaitu saat Demo Day. Ketika produk mereka hendak dipresentasikan, nilai akurasi pengenal gambar mereka lebih rendah daripada milik perusahaan lain. Lalu Chul-san bermaksud mengoptimalkan sedikit angka saat presentasi biar tampaklebih baik. Namun dicegah oleh Do-san alasannya sedikit angka yang tidak jujur, nilai akurasi yang tadinya telah cukup anggun mampu menjadi buruk.